Sunday, October 2, 2011

CATATAN PERJALANAN GUNUNG WELIRANG (3159 MDPL) MALANG, JAWA TIMUR (3-10 Juli 2011) 2

Kami sepakat untuk meninggalkan carir di tempat itu karena tanda-tanda jalur penambang sudah terlihat dari situ. Makanan kecil, sebotol air yang telah diramu dengan f*nta abal-abal sachetan, jaket, peta, kompas, GPS, kamera, serta dua bendera (Indonesia & GMC) kami persiapkan untuk dibawa naik keatas. Selanjutnya, kami berjalan agak berjauhan satu sama lain dengan posisi yang tidak lurus untuk menghindari bongkahan-bongkahan batu berjatuhan yang bisa saja memecahkan isi kepala kami. 

Tidak kurang dari dua puluh menit akhirnya puncak dapat kami taklukan. Areal yang tidak terlalu luas berukuran kira-kira 5x3 m dengan kawah yang cukup lebar di sebelah baratnya. Terdapat pula tumpukan-tumpukan batu yang disusun sebagai tempat memancangkan bendera. Plotting sebentar sambil melihat-lihat kesekeliling dengan sesekali melihat dan mencocokkan kondisi sebenarnya dengan kenampakan yang ada dipeta. Selanjutnya sudah bisa ditebak, kami semua mendadak menjadi banci kamera.hahaha
Arjuno, Argopuro, Raung, dan Mahameru berjajar layaknya pilar-pilar yang menguatkan pulau jawa. Mahameru sendiri sesekali terbatuk mengembuskan muatannya. Di barat jauh tampak puncak-puncak tinggi lainnya yang samar terhalang awan. “Mungkin itu Lawu, Merapi, atau Merbabu”, gumam saya dalam hati.
Welirang Peak, 3159 msl
“Guys, foto-fotonya nanti lagi. Kita Indonesia raya dulu” ujar saya sambil menguatkan berdirinya sang merah putih dicelah bebatuan. “Tapi kamera gw bermasalah nih, kadang-kadang ada garis-garisnya gitu. Mana kamera Adi abis lg baterenya” sambung Mbay sambil menunjukan garis-garisnya ke saya. “Kepanasan kali ya, sampe ada garis-garisnya gitu. Yudlh pke aja daripada kagak” Adi menimpali. Akhirnya dengan pengambilan nada yang seadanya, meluncurlah lagu Indonesia Raya dari bibir kami. Suasana khidmat penuh syukur menghiasi suasana saat itu. Kami, empat orang pemuda berdiri di puncak Welirang menyanyikan National Anthem kebanggaan rakyat Indonesia. Memang menyanyikan lagu kebangsaan di puncak gunung selalu menggetarkan jiwa. Dan saya kira bukan hanya di puncak gunung, dimanapun jika dinyanyikan secara khyusuk akan sama hasilnya.   

Terik matahari yang menyengat membuat kami jadi kurang betah berlama-lama di Puncak. Langsung saja kami turun agar tidak membuang waktu. Kembali ke tempat kami meninggalkan carir dan langsung bergegas turun setelah memakainya. Agak sulit juga memastikan jalurnya karena sudah banyak jaringan jalan yang dibuat untuk akses penambang. Banyak simpangan-simpangan jalur disana. Salah satunya adalah rute pendakian Ceger. Ada kejadian yang membuat panik saya, Mbay, dan Adi. Gibran yang kami utus untuk mengecek jalur tak kunjung kembali setelah sepuluh menit berlalu. “Geo, geo, geo” teriak kami saat itu. Namun teriakan kami urung mendapat balasan dari si Gibran. Segera saja pikiran macam-macam timbul dibenak kami. Khawatir si Gibran terpeleset ke jurang atau bahkan yang lebih buruk dari itu. Mbay yang tadi menyuruh Gibran mengecek jalur terlihat merasa bersalah dan tertunduk lesu di sudut jalur. Segera saja saya menyusul kearah Gibran berjalan. Lima menit berjalan saya belum juga mendapati si Gibran. Terikan-terikan saya pun belum mendapat sambutan darinya. Namun akhirnya sayup-sayup terdengar “Geo, geo” dari kejauhan. Dan tak lama ia pun muncul menampakan dirinya. “Syukurlah” gumam saya dalam hati.
“Negatif, jalurnya ada di bawah punggungan ini” ujar Gibran dengan terengah-engah. “Lo kemana aja, dari tadi kita teriakin ngga nyaut-nyaut?” tanya saya dengan sedikit nada marah. “Gw nyaut kok, emangnya gak kedengaran?” jawab Gibran. Banyaknya puncak-puncak kecil di area ini nampaknya meredam teriakan kami. Kami pun akhirnya melanjutkan perjalanan kembali.  
Disepanjang jalan kami banyak menjumpai penambang yang sedang mendorong gerobaknya. Serpihan-serpihan hijau kuning juga banyak tercecer di jalur penambang tersebut. Kami sudah merasa sangat kelelahan. Ankle kaki rasa-rasanya akan kena jika dipaksakan berjalan. Kami akhirnya tiba kembali di padang edelweis saddle Welirang-Kembar1. Di tempat itu kami makan dan meluruskan anggota badan. Kami berempat sepakat untuk tidur sebentar untuk memulihkan tenaga.

Pukul 14.15 alarm ponsel saya berdering membangunkan kami. Hampir satu jam kami tidur disini. Siap-siap merapikan carir dan berangkat lima belas menit kemudian. Sempat bingung karena jalur tertutup, akhirnya kami memilih lewat punggungan yang sebelah kiri. Sangat terjal memang, tapi mau bagaimana lagi. Kami lebih memilih yang lebih menanjak daripada harus membuka jalur kembali. Setengah jam kemudian kami tiba dipenghujung punggungan. Di depannya adalah tebing yang sangat curam. Saya pikir ini yang disebut puncak Kembar1. Setelah plotting sebentar kami melanjutkan mencari punggungan kearah Kembar2. Bergerak kearah kanan kami menjumpai lapangan, kira-kira berukuran setengah lapangan bola. Dengan gaya sok penemu kami menamai lapangan ini dengan alun-alun Kembar1.haha

Jalur terjal menuju Kembar1
Dari alun-alun tersebut terlihat puncak Kembar1 yang sesungguhnya. Sayapun segera menuju kesana untuk plotting dan pengambilan data. Tiga teman saya memilih tinggal untuk istirahat sebentar sambil bernarsis ria di depan kamera. GPS yang saya gunakan mencatat puncak ini diketinggian 3059 mdpl. Sebelah selatannya adalah tebing curam, dan di beberapa titik mengepul asap panas belerang. Saya kembali ke alun-alun tadi, terlihat muka-muka ceria teman-teman saya disana. Rasa lelah yang sebelumnya hinggap sudah berkurang dengan istirahat dan keindahan kenampakan alam disana. Oh ya, kami sudah tidak berpapasan ataupun menjumpai gerombolan pendaki lagi sejak di pos Pondokan pagi tadi. Terakhir yang kami temui hanyalah seorang pendaki di padang edelweis.

Negeri di atas awan, Kembar1
Kembali kami terpaksa tidak melewati punggungan utama/saddle Kembar1-Kembar2 karena tertutup. Karena tidak mau ambil resiko, kami turun dari sisi gunung dan kemudian melipir di dekat saddle. Secara umum tidak terlihat jalur di sepanjang jalan yang kami lewati. Di beberapa titik memang terlihat jalur, tapi putus-putus. Malah terkesan menjerumuskan. Mungkin jalur-jalur tersebut adalah injakan para pendaki yang tersesat alias jalur nyasar. Dengan bekal navigasi yang kami miliki akhirnya kami tiba saddle Kembar1-Kembar2. Sudah jam lima saat itu. Kami tidak melihat ataupun menemukan tanda-tanda jalur ke puncak Kembar2. Medannya pun sangat terjal. Rasa-rasanya kami tidak mungkin mencapai Pasar Dieng malam itu. Kini kecemasan mulai melanda kami. Bingung, takut, dan sangat lelah yang kami rasakan saat itu. Terlebih tiga orang teman saya ini adalah junior saya dalam hal pendakian. Mereka baru pertama kali terlibat dalam situasi seperti ini. Belum lagi suara angin yang bergemuruh kencang juga turut mengirimkan sinyal kecemasan kepada kami. Saya yang sudah lebih berpengalaman mencoba untuk tetap rileks agar tidak memperkeruh keadaan.
Persediaan air kami masih 3L. Saya kira itu cukup untuk bertahan sampai besok. Sumber air memang sudah tidak kami temukan sejak pagi tadi. Terakhir hanya di pos Pondokan. Akhirnya kami memutuskan camp di tempat ini meski dengan resiko angin yang sangat kencang. Di tempat datar di bawah sebuah pohon yang sudah kami cek ketegarannya. Dan panorama Sun Set yang menemani kami membangun tenda.
Menuju Kembar2

Kamis, 7 Juli 2011
Pukul 05.00 kami bangun. Belum berani saya keluar tenda karena diluar masih sangat dingin. Masih ada segelas kopi untuk pagi ini. Pukul 05.30 kami keluar tenda. Pemandangan disini sangat indah. Hamparan padang rumput yang diapit dua gunung Kembar menciptakan suasana yang tak biasa. Ditambah lagi dengan keindahan puncak-puncak gunung kecil yang berselimut awan. Saya dan Gibran bersiap untuk naik ke puncak Kembar2. Tujuannya adalah pengambilan data dan pengecekan kemungkinan jalur ke Lembah Babi.
Baru lima menit jalan air yang kami bawa tumpah, menyisakan sedikit air saja. Awal yang tidak mengenakan saya pikir. Tapi kami tetap memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Jalurnya sangat menanjak curam, kemiringan lereng sekitar 37° atau 82%. Kami baru menemukan tanda-tanda jalur setelah mendekati puncak.

The Jak Mania di Puncak Kembar2
Sekitar jam setengah delapan kami berdua sampai di puncak. Kami sangat berhati-hati dalam menginjakkan kaki disana. Banyak asap mengepul di areal puncak. 
                                
Hasan Nur Aminudin
G 0909 UI

Friday, September 30, 2011

CATATAN PERJALANAN GUNUNG WELIRANG (3159 MDPL) MALANG, JAWA TIMUR (3-10 Juli 2011) 1

Siang itu kereta api ekonomi matarmaja meninggalkan stasiun Pasarsenen tepat pukul 14.00. Seketika angin segar pun berhembus memberikan kesegaran kepada kami yang memang sudah kepanasan di dalam kereta sejak satu jam lalu. Hari ini kami para GMCers akan berangkat menuju Malang tepatnya ke salah satu gunung yang banyak dikunjungi di Jawa Timur yakni gunung Welirang. Perjalanan kali ini dalam rangka perjalanan panjang yang merupakan salah satu alur penerimaan anggota baru (PAB) GMC UI. Dengan komposisi sembilan caang (baca: calon anggota) dan dua mentor, kami tetap percaya diri melakukan perjalanan dengan misi pengumpulan database gunung Welirang via gunung kembar. 

Senin, 4 Juli 2011        
Sekitar pukul 05.00 kereta singgah di stasiun Blitar. Udara dingin mulai menyeruak menghembus tubuh kami. Semakin mendekati Malang rasanya semakin dingin saja. Berbeda jauh dengan perjalanan saya ke Surabaya tahun lalu dimana banjir keringat kala itu ketika kereta memasuki Surabaya. Akhirnya kereta tiba di stasiun Kota Baru Malang pukul 07.00. Selanjutnya perjalanan dilanjutkkan ke entrance Tretes dengan angkot carteran. Biayanya Rp.150.000,-/angkot. Pukul 11.30 tim tiba di entrance Tretes. Terdapat sedikit masalah klasik yang akhirnya memaksa kami membayar uang tambahan Rp.50.000,- untuk dua angkot yang kami tumpangi. Sopir-sopir angkutan setempat tidak terima rutenya dilalui oleh angkot carteran kami. Oh ya, sekadar informasi, setidaknya terdapat lima rute pendakian menuju gunung Arjuno ataupun Welirang. Lima jalur tersebut adalah Tretes, Batu, Ceger, Lawang, dan Purwosari. Kami memilih Tretes karena rute ini merupakan rute pendakian yang paling dekat ke Welirang serta biasa dilalui oleh para pendaki.    

Jalan Aspal Menuju Pos Pet Bocor  
Saya tidak menyangka dengan apa yang saya liat di tretes. Jejeran hotel, lalu lalang angkutan, serta suasana khas tempat wisata menyambut kedatangan kami di Tretes. Padahal dibayangan saya entrance pendakian hanya sebuah pondokan di ujung desa yang jauh dari keramaian. Tretes layaknya Cibodas di salah satu lereng Pangrango yang sudah banyak terintervensi manusia. Ya, inilah Tretes salah satu tempat wisata di kab. Pasuruan.
Anggota tim dari kiri ke kanan;  
Berdiri: Gibran, Adi, Mbay, Sule, Dika, Troy, 
Tunggal, Arma, Vivi.  Jongkok: Hasan, Cipta
Selesai pack ulang, registrasi pendakian, dan foto bersama petugas PHPA, kami langsung bergegas treking menuju pos Pet bocor. Rencananya kami akan camp di pos Kokopan malam nanti. Jalur menuju Pet bocor masih berupa jalan aspal. Namun tetap saja, baru berjalan lima belas menit keringat sudah membasahi kaos yang saya kenakan. Teman-teman yang lain pun tidak jauh berbeda dengan saya, malahan para ladies nampak kepayahan sekali. Masih penuhnya barang bawaan dan rasa kaget akan medan nampaknya menjadi faktor penyebab rasa lelah kami. 

Setelah sekitar satu jam kami tiba di pos Pet bocor. Areal datar dan luas yang juga bisa dipakai untuk camp. Selain itu juga terdapat warung dan pipa bocor tentunya. Usai plotting dan istirahat  kami kembali melanjutkan perjalanan. Baru sekitar lima belas menit trekking kami kembali menjumpai sebuah pos yang pada plang petunjuknya tertera dengan nama pos Pantau/jaga. Sebuah pos/ruangan di sebelah kanan jalur berukuran sekitar 3x3m yang sepertinya sudah tidak digunakan lagi. Pos ini juga sebagai tempat berakhirnya jalan aspal/cor.

Jalan Berbatu Menuju Kokopan
Selanjutnya jalur berubah menjadi jalan berbatu yang memang dikondisikan demikian oleh perhutani setempat untuk akses jeep pengangkut belerang. Jalur berbatu ini terasa menyulitkan bagi kami. Meskipun lerengnya tidak terlalu terjal (sekitar 20° atau 45%), namun tetap saja jalan kami jadi melambat akibat jalur berbatu tersebut. Kami tiba di pos Kokopan tepat ketika azan maghrib berkumandang. Di Kokopan ini masih terdengar suara azan meski hanya terdengar sayup-sayup. Oh Ya, sebelum pos Kokopan kami juga menjumpai sebuah makam di sebelah kiri jalur, makam ini letaknya agak tersembunyi sehingga jarang dijumpai oleh pendaki. Selanjutnya kami membuat camp di shelter ini. Total dua tenda berukuran enam orang dan satu tenda berukuran dua orang berdiri. Malam itu kami melakukan evaluasi dan merencanakan planning untuk esok hari.

Selasa, 5 Juli 2011
Sunrise di Kokopan
Paginya saya bangun pukul 05.00 yang kemudian disusul dengan teman-teman lainnya. Dinginnya udara pagi membuat mereka malas keluar tenda. Padahal  pemandangan diluar cukup eksotis. Panorama sun rise ditemani dengan gagahnya sosok gunung penanggungan menjadi keindahan yang cukup mempesona.

Kokopan-Pondokan 4-5 jam
Pukul 10.00 kami melanjutkan perjalanan menuju shelter Pondokan. Seperti hari sebelumnya saya dan Cipta selaku mentor jalan di belakang caang. Track yang kami lalui masih berupa jalan berbatu. Disepanjang perjalanan menuju Pondokan ini kami menjumpai sebuah pipa bocor, akar-akaran tumbang, dan beberapa tempat datar di sisi jalur. Kondisi trek cukup terbuka dengan pinus sebagai vegetasi dominan. Tak jarang terlihat lutung dan beberapa jenis burung yang asik mondar-mandir disekitar jalur. Hingga pos Pondokan jalurnya masih berbatu, tapi lebarnya makin menyempit. 

Lelah juga rasanya treking di medan seperti ini. Jalur naik konstan dengan sedikit kelokan disana sini. Semilir angin yang menghantam pinus menciptakan suara-suara semriwing yang menyejukkan tetapi juga menakutkan. Beberapa kali saya terlibat obrolan ringan dengan Cipta, dari mulai soal kuliah sampai perilaku-perilaku caang yang kadang membuat muka merah padam (lebay amat bos.hehe). Membandingkan mereka dengan ketika kami masih caang setahun lalu, sekaligus menjadi bahan evaluasi terhadap diri sendiri. Namun yang paling sering ialah bernostalgia mengenang pendakian Argopuro setahun lalu yang tak mungkin kami lupakan. Jalur yang tidak terlalu terjal dengan tutupan hutan rapat yang diselingi savana luas sangatlah jauh jika dibandingkan dengan trek welirang yang saya lalui saat itu. Belum lagi keindahan padang savana Cikasur yang sangat luas dengan kokok merak dimalam dan pagi hari serta suasana mistis nan menakjubkan di Danau Taman Hidup yang selalu menggugah keinginan saya untuk selalu kembali kesana. Ya paling tidak kami tim yang saat itu ke Argopuro sepakat disana merupakan salah satu Heaven in Indonesia.
Sesaat kemudian kami menjauhi punggungan dan tibalah di lembahan tempat/base camp penambang belerang yang disebut Pondokan. Banyak terdapat bangunan beratapkan jerami dengan aroma belerang disana sini. Sekitar pukul tiga saat itu. Segera saja tiga tenda kembali berdiri. Segelas kopi dan sepiring indomi goreng adalah dua hal yang pertama tersaji usai berdirinya tenda.

Pos Pondokan
Lama-kelamaan dingin juga rasanya. Tapi keinginan bermalas-malas di dalam tenda dengan terbungkus sleeping bag bermerek a*tech sirna setelah saya teringat suatu hal yang amat penting. Guyuran air ke wajah, tangan, kening, dan kaki terasa sangat dingin dan menyegarkan. 2x2 di selembar ponco 2x1 saya laksanakan dengan penuh khidmat disertai rasa syukur yang tak ada habisnya atas keindahan ciptaan Allah yang maha kuasa. 

Planning kembali disusun dan persedian logistik kembali dilakukan pengecekan ulang, itulah yang lakukan malam itu. Pratinjau kesiapan pemetaan Welirang-Kembar1-Kembar2-Arjuno rasanya perlu dilakukan. Hasilnya, hanya tiga orang + satu mentor (Mbay, Adi, Gibran, dan saya) yang menyatakan bersedia melakukan itu. Lainnya memilih menuju Pasar Dieng via Lembah Kijang. Rencananya dua tim ini akan bertemu di Pasar Dieng dan camp disana besok malamnya. 
    
Rabu, 6 Juli 2011
Kurang lebih pukul tiga dini hari saya terbangun. Di luar sana sudah tampak kasak-kusuk teman-teman tengah melakukan persiapan. Pukul 05.30 tim kembar telah siap berangkat. Carir telah berdiri, jaket telah dikenakan, dan cahaya diufuk timur sudah mulai membagunkan aktifitas pagi di Pondok belerang. Lolong anjing hutan yang samar-samar dikejauhan dan pesan teman-teman tim kijang untuk hati-hati (tim kijang dan tim kembar; kami menyebutnya seperti itu) mengantarkan kami menelusuri lekuk-lekuk hutan pinus dipagi itu. Dengan tempo 30 menit jalan dan 5 menit istirahat kami berempat percaya diri akan menaklukan puncak Welirang dalam empat jam kedepan. 

“Wah treknya lebih terjal dari yang kemarin nih, tapi masih lebih empuk diinjak” kata Adi dengan nafas yang terengah-engah. Di depan sudah terlihat saddle/punggungan yang menghubungkan Welirang dengan Kembar1. Itu tandanya sudah dekat, kami makin bersemangat menuju kesana. Hingga akhirnya kami tiba di saddle tersebut dimana terdapat Edelweis yang nampaknya sedang tidak mekar. Tak terasa sudah dua setengah jam kami trekking. Lelah memang, tapi hamparan pemandangan indah khas ketinggian 2900an mdpl seakan menyihir dan menghilangkan rasa lelah kami. 

Ada dua jalur menuju Welirang dari sini. Yang satu menyusuri punggungan dan satu lagi sedikit memutar (melipir) yang biasa dilalui penambang. Kami memilih jalur yang pertama dengan catatan akan melalui jalur penambang ketika turun nanti. Hal ini kami lakukan agar semua jalur dapat terpetakan. Jalur sempit menanjak curam kami lalui disusul dengan batu-batu besar dengan sedikit vegetasi. 

Makan apel dulu mas...
“Guys, kita break dulu deh, engap gw” kata Gibran yang nampak sudah kepayahan. “Eh ni apel yang ada di gw kita makan aj ya, buat ganjel perut” kata Mbay sambil cengangas cengenges dengan gaya khasnya. “Iye tuh lumayan buat ngademin tenggorokan” saya melanjutkan.
Kami memang sempat membeli apel di pasar Singosari untuk suplai vitamin ketika kami berada di gunung. “Seger juga y makan apel di ketinggian 3000, nyes-nyes gimana gitu”, ujar gw yang sedang mengunyah apel yang berwarna hijau kemerahan itu. “Bener banget, lumayanlah buat ngebasahin bibir yang udah mulai pecah-pecah” sambung Mbay. “Eh san, kira-kira sengah jam lagi nyampe ga ya?” tanya Mbay ke gw. “Nyampe lah tu udah keliatan puncaknya. Yud yuk jalan lagi” jawab gw dengan nada sok tau. Sejenak kemudian kami bangun dan melanjutkan perjalanan. Jalur semakin menanjak tajam membuat kami semakin kepayahan. Carir yang menggantung dipundak kami rasanya sangat memberatkan. Ingin rasanya menurunkan carir dan segera lari “ngacir” menuju ke puncak (kaya bisa aja.hehe). Kami memang membawa carir karena harus membawa semua barang bawaan dan bertemu dengan tim kijang di Pasar Dieng nanti malam. Meninggalkan carir di lembah edelweis di bawah tadi pun rasanya tidak mungkin karena banyak penambang belerang yang berlalulalang. 

Ditengah rasa lelah yang begitu sangat, tiba-tiba Adi yang jalan paling depan berteriak “puncak,..puncak”. Seketika saya kembali semangat dan langsung mengejar mereka yang memang sudah jauh di depan. Tapi,.................$#&!*?. “Mbay, kalo ini puncak itu apaan?” tanya Adi sambil menunjuk sesuatu berwarna putih di depan yang menjulang tinggi. Kami semua saling tengok satu sama lain dengan penuh keheranan. Semangat itu kini berganti lemas dan cemas. Ditambah lagi panasnya terik matahari yang sudah mendekati pukul 11. Dengan langkah gontai kami kembali mengarungi pasir dan batu-batuan menuju puncak tertinggi Welirang. Kembali naik yang kemudian sedikit turun disusul dengan mengitari sebuah kawah yang sudah tidak aktif. Di bawahnya terdapat banyak batu-batuan yang sedemikian rupa dibentuk menjadi rangkaian huruf nama-nama dari para pendaki yang coba mengabadikan namanya.

Menuju puncak beneran. hosh..hosh
Tidak terlintas pikiran untuk turut membuat yang seperti itu. Yang ada dipikiran kami saat itu segera menaklukan puncak Welirang dan segera turun kembali lewat jalur penambang. Dari sini kembali terlihat dua puncak tinggi yang kembali membingungkan kami. Lelah, panas, berat, dan pikiran yang kurang tenang nampaknya membuat kami jadi tidak bisa memastikan mana puncak yang paling tinggi. Segera saja Mbay menurunkan carir dan menghampiri seseorang yang terlihat sedang mengangkuti belerang di sekitar kawah. “Puncak paling duwure sing endi pak?”. Tanpa menjawab, sang bapak hanya menunjuk ke arah puncak yang sebelah kanan. “Oowh,. Suwun ya pak”, lanjut Mbay kepada si bapak tadi. Kembali si bapak hanya mengangguk pelan tanpa menjawab. Terik panas yang menyengat di ketinggian 3100 saat itu memang membuat malas siapa saja yang berada disana untuk mengeluarkan kata-kata. Rasanya memang ingin segera menyudahi segala aktifitas dan merebahkan diri di tempat yang nyaman. Saya pikir penambang belerang tersebut merasakan hal yang sama seperti kami, tapi bedanya itu sudah menjadi pekerjaan mereka sehingga suka tidak suka harus mereka selesaikan. 

Bersambung ke part 2 ...