Saturday, February 4, 2012

PSEG 2011, Gadog, Bogor


Liburan semester ganjil tiba, dan seperti biasa acara Pra Studi Ekskursi Geografi (PSEG) kembali digelar. Tahun ini yang menjadi peserta ialah Mahasiswa Geografi Angkatan 2011 dengan panitia Mahasiswa Geografi Angkatan 2010. Lokasinya bertempat di salah satu lereng Gn.Pangrango di daerah Gadog, Bogor.
PSEG kali ini cukup berbeda dengan PSEG tahun-tahun sebelumnya dimana terdapat keunikan pada tempat pelaksanaannya. PSEG yang biasanya dilakukan di tempat yang cukup jauh dari peradaban kini mendekati wilayah berperadaban. Kegiatan yang berlokasi di ketinggian 930 mdpl tersebut berlangsung di area camping ground dengan fasilitas kamar mandi yang cukup banyak dan baik kondisinya. Selain itu tempat yang cukup luas dan datar dengan view pemandangan yang cukup bagus menjadikan tempat ini memang cukup cocok dengan acara camping besar macam PSEG.

Base camp area PSEG 2011
Diantara objek sekitar area yang cukup menarik adalah kuburan jerman. Kuburan tersebut merupakan makam para tentara jerman yang tewas dalam peperangan masa kolonial. Paling tidak itu yang diceritakan pada tugu yang tertulis disana. Saya juga tidak tahu pasti mengapa  sampai ada tentara jerman disana, tetapi yang saya tahu dahulu jerman sempat membantu jepang di indonesia yang merupakan kawannya saat perang melawan sekutu. Bentuk dari kuburan tersebut beciri khas salib besar yang begitu mencolok dengan warna putih yang berderet rapi. 

Situs Kuburan Jerman

Yang pasti PSEG 2011 telah selesai dan sudah melantik mahasiswa 2011 sebagai keluarga besar Geografi UI. Terimakasih kepada panitia yang sudah bekerja semaksimal mungkin, terimakasih kawan-kawan senior dan alumni yang sudah menyempatkan datang, dan selamat datang mahasiswa baru angkatan 2011. We Are Big Family of Geography UI

Wednesday, December 28, 2011

POLA KERUANGAN PEDAGANG ASONGAN DI KERETA EKONOMI JARAK JAUH

Tulisan ringan mengenai Transport Geography

Kereta ekonomi jarak jauh dengan segala karakteristiknya tidak bisa dipungkiri menjadi tempat yang strategis untuk berjualan asongan. Tidak adanya larangan membuat para pedagang bebas berkeliaran di dalam kereta ekonomi. Dimata para penumpang sendiri pedagang terkadang dicari terkadang juga dimaki. Dicari ketika penumpang sedang membutuhkan sesuatu seperti makanan dan minuman (karena harganya murah meriah), dimaki ketika dirasa sangat mengganggu terlebih ketika kereta sedang berhenti cukup lama disebuah stasiun yang membuat kondisi gerah dan pedagang berbondong-bondong datang bak semut menggerogoti gula dengan suara-suara nyaring yang membuat bising telinga.
 
Terlepas dari semua itu,  saya melihat ada sesuatu yang cukup unik dari fenomena pedagang asongan tersebut. Terdapat pola-pola keruangan dalam realitas perdagangan didalam kereta. Adanya aturan-aturan perdagangan yang telah disepakati per-segmen zona. Pedagang asongan segmen Cirebon-Cikampek misalnya, akan berbeda orangnya dengan pedagang segmen Tegal-Pekalongan. Dan para pedagang segmen Cirebon-Cikampek tidak bisa berjualan di segmen Tegal-Pekalongan. Begitu pula yang terjadi pada segmen-segmen lainnya. Segmen-segmen itu sendiri terbentuk diantara nodes yang dalam hal ini stasiun-stasiun yang cukup besar seperti Cikampek, Cirebon, Tegal, Pekalongan, Semarang, Solo, Kediri, Madiun, Blitar, Malang, Surabaya, dan stasiun besar lainnya. 

Dalam hal harga pun sudah terjadi kesepakatan harga antar segmen. Harga pop mie seduh misalnya, pada segmen Cikampek-Cirebon dibanderol sebesar Rp.6000,-. Sedangkan pada segmen Cirebon-Tegal sebesar Rp.7000,-. Tidak bisa pedagang segmen Cirebon-Tegal menurunkan harga menjadi Rp.6000,-. Akan ada sanksi tersendiri bagi yang melanggar kesepakatan yang telah dibuat. Semua itu saya ketahui setelah beberapa kali melakukan perjalanan menggunakan kereta kelas ekonomi dan menanyakan langsung dari beberapa pedagang yang bersangkutan. Terlebih saya juga sering membeli makanan ataupun minuman dari para pedagang tersebut.


Selain itu, terdapat pula jenis barang yang khas yang didagangkan per-segmen. Pecel misalnya, pecel Cirebon akan berbeda dengan pecel Semarang ataupun pecel Madiun, pedagang pakaian batik hanya terdapat di Pekalongan, pedagang Brem Madiun hanya ada sekitar madiun, pedagang aksesoris hanya ada di segmen Karawang-Cikampek, dan banyak lagi beragam barang-barang khas yang dijual didalam kereta.

Benang merahnya ialah bahwa terdapat pola keruangan pedagang asongan dilihat dari karakteristik asongan yang dilihat per-segmen wilayah. Perlu pembahasan yang mendalam dan komprehensif untuk dapat membuktikan secara ilmiah fenomena keruangan diatas kereta tersebut.